Kamis, 29 Oktober 2009

7 Langkah Membangun Percaya Diri Yang Tak Tergoyahkan

Tak dapat dipungkiri kita semua pasti pernah mengalami rasa tak percaya diri sesekali waktu. Adakalanya agak sulit untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri itu sewaktu kita sedang membutuhkan. Sebenarnya ada latihan sederhana yang dapat dipraktekkan untuk mendapatkan rasa percaya diri Anda agar kembali ke jalurnya secepat mungkin saat dibutuhkan. Berikut kami sampaikan tujuh langkah membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.

1. Perhatikan Postur Tubuh - Mungkin kedengarannya ini tak memiliki hubungan dengan rasa percaya diri yang kita bicarakan ini, tetapi sebenarnya bagaimana sikap duduk atau berdiri Anda, mengirimkan pesan tertentu pada orang-orang yang ada di sekekliling Anda. Jika pesan tersebut memancarkan rasa percaya diri, Anda akan mendapatkan tanggapan positif dari orang lain dan tentu saja ini akan memperbesar rasa percaya diri Anda sendiri. Jadi mulai perhatikan sikap duduk dan berdiri untuk menunjukan Anda memiliki rasa percaya diri.

2. Bergaulah Dengan Orang-Orang Yang Memiliki Rasa Percaya Diri Dan Berpikiran Positif - Lingkungan membawa pengaruh besar pada seseorang. Jika Anda terus menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh dan pesimis, seberapa besarpun percaya diri yang Anda miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan Anda. Sebaliknya, jika Anda dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, makan akan tercipta pula atmosfir positif yang membawa keuntungan bagi diri Anda.

3. Ingat Kembali Saat Anda Merasa Percaya Diri - Percaya diri adalah sebuah perasaan, dan jika Anda pernah merasakannya sekali, tak mustahil untuk merasakannya lagi. Mengingat kembali pada saat dimana Anda merasa percaya diri dan terkontrol akan membuat Anda mengalami lagi perasaan itu dan membantu meletakan kerangka rasa percaya diri itu dalam pikiran.

4. Latihan - Kapanpun Anda ingin merasakan rasa percaya diri, kuncinya adalah latihan sesering mungkin. Bahkan Anda dapat membawanya dalam tidur. Dengan kemampuan yang terlatih, Anda tak akan kesulitan menampilkan rasa percaya diri kapanpun itu dibutuhkan.

5. Kenali Diri Sendiri - Pikirkan segala hal tentang apa yang Anda sukai berkenaan dengan diri sendiri dan segala yang Anda tahu dapat Anda lakukan dengan baik. Jika Anda kesulitan melakukan ini, ingat tentang pujian yang Anda peroleh dari orang-orang - Apa yang mereka katakan - Anda melakukannya dengan baik? Sebuah gagasan bagus untuk menuliskan semua ini, hingga Anda bisa melihatnya lagi untuk mengibarkan rasa percaya diri kapanpun Anda membutuhkan inspirasi.

6. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri - Jangan terlalu mengkritik diri sendiri, jadilah sahabat terbaik bagi diri Anda. Namun, saat seorang teman sedang melalui masa sulit, Anda tak akan mau terlibat dalam masalahnya hingga menguras emosi Anda sendiri kan? Tentu saja Anda tak mau. Pebicaraan yang positif dapat berubah jadi senjata terbaik untuk menaikan rasa percaya diri, jadi pastikan Anda menanam kebiasaan ini, jangan biarkan permasalahan orang lain membuat Anda jadi terpuruk.

7. Jangan Takut Mengambil Resiko - Jika Anda seorang pengambil resiko, Anda pasti akan temukan kalau tindakan ini mampu membuahkan rasa percaya diri. Tak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman. Selain itu, tindakan ini juga berfungsi bagus untuk mengurangi rasa takut Anda akan ha-hal yang tak Anda ketahui, plus bisa dari pembangkit rasa percaya diri yang luar biasa.

Lebih dari segalanya, selalu ingatlah bahwa Anda memiliki bakat dan kemampuan. Pastikan Anda selalu melakukan yang terbaik untuk semua itu dan inilah yang akan jadi batu loncatan terbaik untuk membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. (erl)

Sumber: http://www.kapanlagi.com/a/7-langkah-membangun-percaya-diri-yang-tak-tergoyahkan.html

Selasa, 27 Oktober 2009

Anakku Nakal Atau Kreatif ?

Beberapa orang tua kerap mengeluhkan kelakuan anak-anak mereka. Di antara sebagian besar keluhan orang tua, keluhan-keluhan mengenai kenakalan anak nampak seringkali menjadi masalah-masalah yang banyak diungkapkan.

“Anak saya senangnya main tanah dan pasir, baju jadi banyak yang kotor.”

Lain lagi dengan komentar ibu yang lain,

“Kemarin sewaktu membeli jus buah, dia mencampur-campur isinya sehingga rasa buahnya jadi beraneka ragam,”

dan masih banyak lagi keluhan-keluhan yang lain.

Dengan beragamnya kelakuan anak, seringkali kita jadi demikian mudah terjebak untuk dengan cepat melabel “nakal.” Namun sebaiknya “kenakalan-kenakalan” seperti yang banyak dikeluhkan perlu disikapi dengan lebih bijak. Jangan-jangan kita yang keliru memberikan penilaian. Memang tidak disangkali kerapkali kita lebih menaruh sikap positif pada anak-anak yang memiliki kriteria disiplin dan taat daripada anak-anak yang berani dan menuntut banyak kebebasan (Munandar dalam Satiadarma & Waruwu, 2003). Anak-anak yang berani, memiliki inisiatif mencoba, dan menuntut banyak kebebasan seringkali lebih mudah di beri label-label yang negatif.

NAKAL ATAU KREATIF?
Dalam menyikapi perilaku-perilaku anak, kita perlu lebih hati-hati. Jangan sampai ada kekeliruan dalam memberikan penilaian terhadap perilaku mereka. Kita perlu lebih jeli dalam melihat apakah perilaku yang muncul merupakan bentuk kenakalan ataukah wujud dari pemikiran kreatifnya. Perilaku kreatif pada dasarnya muncul sebagai cerminan dari rasa ingin tahu yang besar dan didorong oleh adanya keberanian untuk mencoba. Berbeda dengan perilaku nakal, perilaku nakal pada dasarnya muncul ketika memang ada unsur kesengajaan untuk tujuan yang kurang baik. Namun seringkali kita hanya memfokuskan diri pada perilaku yang muncul tanpa menelusuri sebab-sebab dari perilaku yang nampak. Ketika ada perilaku yang tidak diharapkan muncul, orang tua kerap secara langsung memfokuskan pada perilakunya dalam memberikan label “nakal” dengan cepat. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

Untuk memudahkannya, kita ambil satu contoh kasus dari pengalaman seorang ibu yang telah dikemukakan di atas. Anak perempuannya yang berusia 6 tahun mencampur-campur berbagai isi jus buah ke dalam gelas. Tidak heran ketika fokus kita adalah perilaku yang nampak maka yang terjadi adalah kemarahan dan kekesalan akibat dari perilakunya, rasa jus jadi beraneka ragam dan meja dapur jadi berantakan. Namun bisa saja ternyata sebenarnya itu bukan bentuk kenakalan namun sebenarnya adalah wujud dari pemikiran kreatifnya di mana ia ingin mencoba berbagai hal.

BAGAIMANA KITA TAHU BAHWA IA KREATIF?
Sebagian besar orang tua jadi bertanya bagaimana cara untuk mengetahui apakah perilaku tertentu muncul karena memang bentuk kenakalan ataukah bentuk kreatif? Satu hal yang penting adalah sikap awal dalam menghadapi kejadian. Usahakan untuk tidak terlalu fokus hanya pada perilaku yang kelihatan. Langkah kedua adalah cari tahu mengenai alasannya. Menanyakan anak mengenai apa yang sedang dilakukan dan alasan mengapa ia melakukan itu adalah hal penting. Dari jawaban-jawabannya kita dapat menyelidiki. Dalam usaha ini, kepekaan dalam mengenali maksud anak sangat penting. Jangan sampai kekeliruan bersikap yang kita buat menyebabkan matinya keberanian berekplorasi dan mencoba berbagai hal baru. Salah satu contoh kasus, seorang anak memasukkan tanah ke dalam gelas dan mengaduk-aduknya. Sekilas bisa jadi kita akan terperangkap dalam pola pemikiran bahwa ia “nakal” namun bila ternyata ia melakukannya karena ia ingin mencoba melihat apakah tanah dapat larut dalam air seperti sirup yang biasa ia minum maka sebenarnya hal tersebut sebenarnya mencerminkan rasa ingin tahu dan pemikiran yang kreatif.

Perilaku kreatif muncul dalam kondisi di mana anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Rasa ingin tahu ini memicunya untuk mencoba dan mengeksplorasi banyak hal. Oleh karena itu jangan terburu-buru membuat kesimpulan namun manfaatkan kejadian yang ada menjadi sarana di mana anak bisa belajar banyak hal. Namun bukan berarti juga memberikannya kebebasan tanpa batas!

BAGAIMANA MENINGKATKAN KREATIVITASNYA DALAM BERPIKIR?
Hal penting yang dapat dilakukan adalah menyediakan situasi yang kondusif (nyaman) buat anak dan memberi lebih banyak stimulasi. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan antara lain:

• Memberikan anak kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai hal yang ada di sekitarnya. Tentu saja kebebasan dan kesempatan yang terarah. Ikut terlibat bermain bersama anak, melakukan percobaan bersama-sama merupakan aktivitas menarik yang dapat merangsang tumbuh kembangnya kreativitas anak. Contoh sederhana misalnya, membiarkan anak bereksplorasi dengan mencampur beberapa warna cat air saat menggambar untuk menghasilkan beberapa warna baru.

• Memacu kemampuan anak untuk memikirkan berbagai alternatif solusi atas suatu permasalahan. Merangsang anak dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka, melibatkannya dalam diskusi, atau sumbang saran dapat menjadi hal-hal penting yang dapat diupayakan. Dengan demikian anak mampu mempelajari bahwa tidak semua persoalan memiliki hanya satu jawaban/solusi yang paling benar/tepat. Contoh: Apa saja yang dapat dilakukan dalam memberikan pertolongan pada teman yang sakit?

• Menekankan dan menghargai proses berpikir dan bukan hanya memfokuskan pada hasil yang dicapai anak. Kreativitas bukan hasil pemikiran yang tiba-tiba namun merupakan proses kesinambungan. Oleh karena itu, orang tua perlu menghargai setiap usaha anak.

• Memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi dan berekspresi sebebas-bebasnya menuangkan ide/pemikiran mereka. Hargailah imajinasi mereka. Usahakan untuk menangguhkan dulu semua kritik pada pemikiran-pemikiran anak yang tampaknya tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan realita. Contohnya: Ketika anak mengatakan ”Aku mau membuat mobil terbang nanti kalau sudah besar.” Nampaknya ini bukan hal yang logis namun jangan buru-buru ditangguhkan ide-idenya melainkan berikan dia pertanyaan-pertanyaan atau penjelasan-penjelasan mengenai bagian-bagian mobil, apa saja yang dapat membuat mobil berjalan, dan sebagainya.

• Melatih anak untuk menerima dan beradaptasi dengan sesuatu yang baru termasuk di dalamnya perubahan. Anak yang kreatif adalah anak yang mampu bertahan di mana terjadi perubahan dan berani mengambil resiko. Untuk itu membantu anak memperoleh beragam pengalaman dan mendampingi mereka akan menunjang kemampuan anak dalam menciptakan kreativitas.

Sherley Stacia
Pusat Konseling & Pelatihan IPEKA